Jual Ikan Koi Merambah Pasaran

Jual Ikan Koi Merambah Pasaran 

Jual Ikan Koi Merambah Pasaran

Sejumlah pedagang mulai merisaukan keberadaaan ikan koi karena sudah semain banyak beredar di pasaran pasaran tradisional maupun modern kondisi ini membuat masyarakat semakin banyak yang minat kepada ikan koi. Meski Jual Ikan Koi sudah tidak asing lagi bagi siapaun sebenarnya yang ada di sana karena sudah tidak mungkin lagi bisa tergabung dalam sebuah kepemimpinan mereka lalui. Dari sinilah awal mula dari sebuah keinginan yang sangat kuat kepada siapapun mereka yang tidak akan mungkin bisa diraih oleh siapapu. Abdul Fatah mengaku terus mengikuti perkembangan muktamar ke-33 dari awal. Dia memang sengaja datang ke Jombang dengan kapasitas sebagai Jual Ikan Koi peninjau. Menurutnya, panitia sudah bekerja secara maksimal. Selain itu, dalam muktamar ke-33 juga terdapat banyak perkembangan. Semisal, proses registrasi dilakukan secara online.

Rijanto menjelaskan jika dirinya tidak mempermasalahkan keputusan tersebut. “Mau bagaimana lagi,wong udah ditutup dan tidak ada lawannya yang yang Jual Ikan Koi jelas kami harus legowo menerima kenyataan ini,” terangnya. Menurutnya semua mekanisme yang dilakukan pihak KPU Kabupaten Blitar sudah sesuai dengan aturan dan pihaknya harus menerima semua kenyataan ini.Terkait hal ini pihaknya tidak akan melakukan langkah jalur hukum atau apapun. “Kami menerima dengan legowo dan akan mengikuti mekanisme sesuai jalaur yang ada,” imbuh Rijanto .

Situsi sidang pleno tata tertib (tatib) muktamar ke-33 NU di Jombang, berlangsung panas. Situasi ini memantik keprihatian sejumlah pihak. Salah satunya adalah kelompok pengamat nahdliyin. Menurut mereka,  agar pro kontra Jual Ikan Koi tersebut tidak berkepanjangan, Plt Rais Aam PBNU, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, diminta untuk turun tangan mengelurkan fatwa. Mungkin memang sudah waktunya. Paslon Rijanto – Marhenis (Ridho) mengaku legowo terkait penundaan pelaksanaan pemilihan bupati (pilbup) setelah hingga Jual Ikan Koi batas akhir pendaftaran tidak ada paslon lain yang mendaftarkan diri ke KPU. Hal ini terucap saat Koran Memo melakukan wawancara dengan Paslon Ridho.Penyataan itu dilontarkan pengamat nahdliyyin, Abdul Fattah saat menggelar jumpa pers dengan sejumlah wartawan pagi. “Kalau pleno diteruskan tidak akan ada titik temu. Makanya kami berharap Rais Aam turun tangan dengan mengeluarkan fatwa terkait persoalan itu,” kata Ketua Lembaga Kajian Masyarakat (Lekat ) ini.

Menurut pengamat asal Bogor ini, perdebatan yang muncul juga berkualitas. Masing-masing memilik alasan kuat untuk mempertahankan pendapatnya. Seperti dalam pleno tatib yang berlangsung, terdapat Jual Ikan Koi tiga pemikiran. Pertama, ada kelompok yang menolak AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi) atau musyawarah mufakat. Kedua ada yang menerima AHWA, dan ketiga setuju AHWA namun baru bisa dilaksanakan pada muktamar 5 tahun ke depan. Masing-masing kelompok terus mempertahankan pendapatnya dengan alasan yang sama-sama kuat.