Terima Kasih Sudah Memberiku Kesempatan Untuk Memanggilmu dengan Sebutan Kakek

Tidak semua orang di dunia ini terlahir dengan penuh keberuntungan. Tentu saja, karena kita adalah manusia yang tidak bisa menjadi sempurna seperti-Nya. Dan mungkin, aku adalah salah satu dari orang yang lahir di dunia ini dengan sedikit keberuntungan.

Mulai sejak kecil, saya tidak sempat memiliki seorang yang dapat kupanggil kakek maupun nenek. Mungkin saja terdengar klise, tapi demikianlah ada.

Bapak serta ibu dari ayahku telah lama wafat, bahkan juga saat ayahku masih tetap kecil, hingga sosoknya juga bahkan juga tidak sempat terbayang. Cuma batu nisan dengan nama mereka yang dapat dikenang. Bapak dari ibuku juga sekian. Ia wafat di usianya yang ke 74 di th. 2010 yg kemarin. Serta saat ini, tinggal ibu dari ibukulah yang masih tetap hidup.

Taapi kesempatan ini, saya menginginkan menceritakan mengenai bapak dari ibuku sebelumnya beliau wafat 6 th. kemarin.

Ema, demikianlah kami punya kebiasaan menyebutnya. Saat itu, saya masih tetap duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya yaitu seseorang remaja normal seperti biasanya. Saya miliki bapak, ibu serta 2 orang saudari. Saya lahir serta di besarkan dengan penuh kasih sayang. Walau demikian, mulai sejak kecil saya senantiasa merindukan sosok kakek serta nenekku. Saya masih tetap ingat, saat kelas 3 SD, kami diminta buat karangan mengenai berlibur ke tempat tinggal kakek serta nenek. Semuanya beberapa rekanku pastinya memiliki pengalaman berlibur dirumah kakek serta neneknya, tapi saya mesti senang dengan narasi mengenai kakek serta nenekku yg kudengar dari ibu. Saya iri mendengar narasi beberapa rekanku. Benar-benar, kata kakek serta nenek terdengar demikian manis mereka katakan. Sempat saya menceritakan pada ibu kalau saya menginginkan berjumpa kakek serta nenekku, tapi ibu senantiasa menjawab dengan argumen klasiknya, “Kampung kakek serta nenek sangat jauh. ” Jadi bebrapa sekali lagi, saya mesti senang menggunakan liburanku dirumah.

Sampai saat saya duduk di bangku kelas 2 SMP, saya belum juga sempat lihat sosok mereka dengan segera. Sekian kali saya mendengar nada mereka lewat telepon, serta kuakui rasa rinduku terobati, walaupun memanglah tidak seutuhnya. Mendadak di satu pagi, saya dikagetkan dengan kehadiran seorang. Saya ingat dengan terang, pagi itu tanah masih tetap harum dengan bau basah, sisa hujan pada malam hari. Dengan tas kecil di punggung serta satu kresek merah besar di tangan kanannya, ia jalan perlahan. Saya memandangnya dari jendela tempat tinggal, dengan perasaan sedikit bingung. Tapi perasaan memanglah tidak sempat berbohong, berwajah memanglah asing tapi hatiku tahu kalau dia yaitu sosok yg sampai kini saya rindukan. Dengan selekasnya saya buka pintu tempat tinggal serta berteriak menyebutnya, “Kakek”.

Keluargaku juga berhamburan keluar saat mendengar saya menyebut namanya. Saya tidak tahu, mungkin saja sesederhana berikut pengertian bahagia. Sesederhana saat saya menyebutnya dengan sebutan kakek dengan segera untuk pertama kalinya.

Sesudah kedatang beliau pagi itu, situasi di rumahku tampak demikian berlainan. Kurasa, tidak cuma saya yang rindu menyebutnya kakek, tapi juga ke-2 saudariku. Serta sudah pasti, mulai sejak waktu itu, hari-hari kosongku mulai beralih. Sore hari yang umum kuhabiskan di luar tempat tinggal untuk bermain, saat ini ditukar dengan kebiasaan baru, jadi pendengar setia narasi dongeng jadul kakekku. Serta sisi yang paling saya gemari yaitu saat akhiri satu narasi, beliau senantiasa menambahkan petuah-petuah bijak. Ada satu petuah bijak yang paling kuingat, “Hanya ada satu kunci kesuksesan yang paling ajaib, yakni jangan sampai buat ibumu menangis. ” Saya tersentuh, mendengar petuah bijak itu keluar dari mulut kakekku. Walau demikian, saya belum juga sangat mengerti petuahnya saat itu. Yang kutahu, itu yaitu kalimat favoritku sampai saat ini.

Baca Juga: Ucapan Hari Pahlawan

Kakek juga membawa demikian banyak perubahan sejak kehadirannya. Saya serta keluargaku umumnya pergi ke gereja di sore hari. Walau demikian saat kehadiran kakek, kami mulai punya kebiasaan ikuti gereja pagi. Menurut kakek, saat paling baik ke gereja yaitu pada pagi hari, karna pagi hari jadi awal kebiasaan harian kita. Kakek mengajarkan demikian beberapa hal baru. Sampai di hari kematiannya enam th. lantas, beliau serta petuah-petuah bijaknya tetaplah hidup di hati kami sekeluarga.