Surat Usang tentang Cinta yang Panjang

Mungkin kau sudah tahu bahwa aku adalah tipe orang yang hobi menulis dan membaca. Di sekolah kita dulu, ketika kau istirahat bersama teman-temanmu, kau pasti sering melihatku menuju arah yang berbeda. Menuju perpustakaan. Jadi, aku simpulkan kau pasti sudah tahu apa kesukaanku.

Tetapi, saya belum juga sempat memberitahumu mengenai surat-surat yang kutulis. Satu surat panjang yang merangkum semua kisahku dengan dirimu di masa-masa sekolah kita.

Kau tahu? Saya telah mulai menuliskannya mulai sejak SD. Mulai sejak kita masih tetap belum juga satu sekolah. Mungkin saja waktu itu kau belum juga mengetahui diriku seutuhnya. Namun saat pertama kalinya saya melihatmu di Lapangan Kecamatan waktu berolahraga dengan antar SD, saat itu juga saya rasakan suatu hal yang berlainan. Mungkin saja untuk beberapa orang, semuanya sangat awal. Namun kenyataannya, saya tidak sempat perduli. Saya mulai menulis surat-surat itu.

Kucurahkan semuanya perasaanku kedalam berlembar-lembar kertas buku catat. Berisi berbagai macam. Terkadang berupa curhatan. Terkadang dapat pula berupa pertanyaan-pertanyaan yang tidak sempat berani kusampaikan padamu dengan segera.

Rutinitas itu kulanjutkan sampai kita hingga ke tahap sekolah selanjutnya. Waktu itu kita bersekolah di SMP yang sama. Saya bahagia sekali saat itu. Memikirkan kalau diriku juga akan miliki semakin banyak cerita untuk ditulis dalam surat-surat itu.

Ya. Serta, memanglah benar. Kita sempat dekat. Saya menulis makin rajin. Jumlah lembarannya jauh lebih dari surat-surat yang kutulis mulai sejak SD. Pernah terpikir dipikiranku kalau sekarang ini yaitu waktu yang pas untuk menyerahkan surat ini padamu. Namun tak tahu mengapa, saat telah berpapasan denganmu, saya jadi tidak mengerjakannya. Saya kehilangan keberanian yang telah kupupuk dari tempat tinggal.

Saya berupaya membesarkan hatiku dengan anggapan kalau kita juga akan bersekolah di SMA yang sama sekali lagi. Saya merencanakan juga akan memberi semuanya surat ini buatmu ketika itu. Supaya kau tahu perasaanku. Supaya kau tahu kalau sepanjang hidup ini cuma kau yang kunanti.

Namun fakta berkata beda. Kau pergi meneruskan pendidikan ke kota yang berlainan. Saya tidak tahu apakah itu memanglah karna hasratmu sendiri, atau paksaan dari orang-tua. Yang pasti saya sedih sekali saat itu.

Saya hingga sempat mengharapkan kita dapat berjumpa ketika jam pelajaran berolahraga seperti waktu di SD dahulu, tapi tidak mungkin itu berlangsung. Baik sekolahku maupun sekolahmu, tentunya telah mempunyai lapangan semasing. Saya sempat juga mengharapkan kau geser kemari atau saya yang geser kesana karna satu argumen, tapi sebagian keinginan itu selanjutnya cuma jadi kekonyolan belaka.

Selanjutnya, kegembiraanku cuma datang saat memandangi beberapa photo paling barumu di media sosial. Itu juga sesungguhnya tidak sangat berguna bagiku. Sebab kerapkali beberapa photo yang kau unggah yaitu photo dengan pacar barumu.

Tempatku waktu itu betul-betul susah, saya cemburu melihatmu dengannya, tapi di bagian beda saya juga tidak miliki kuasa untuk melarang. Untuk melampiaskan amarah, saya cuma dapat menghapus atau berhenti ikuti akunmu. Sudah pasti hal tersebut tidak cukup. Kau tidak mungkin saja mengambil keputusan hubungan dengan pacar bila saya lakukan hal tersebut, bukan? Bahkan juga, mungkin saja kau tidak sempat sadar saya sudah menghilang dari daftar rekan atau orang yang mengikutimu.

Saya sempat berusaha untuk meyakinkan itu lewat cara memberikan dan ikuti kembali akunmu di media sosial. Kau terima permintaanku karenanya. Kukira juga akan ada serentetan pertanyaan darimu untukku, seumpama, kenapa saat ini kau hilang dari daftar rekan serta pengikutku? Tapi kenyataannya yang sesuai sama itu hanya keinginanku belaka. Anda memang sungguh-sungguh tidak perduli sekali lagi denganku. Kontras denganku yang tidak sempat lupa untuk pikirkan dan mendoakan dirimu.

Menginginkan rasa-rasanya saya mencari wanita beda, memacarinya lantas menunjukkannya di depanmu. Tetapi, saya tidak dapat. Mataku seakan buta untuk lihat bebrapa wanita beda diluar sana.

Pada akhirnya, saya tidak mempunyai bahan tulisan sejumlah dahulu buat surat-suratku. Cuma ada sedikit narasi mengenai aktivitasmu di media sosial. Seperti waktu kau lakukan karyawisata dengan pacar serta beberapa rekanmu. Kau duduk berdua dengan lelaki itu. Senyummu merekah, sesaat tangan lelaki itu merangkul pundakmu.

Baca Juga: Cara membuat kop surat

Dirumah, saat lihat itu, saya tidak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri. Serta mulai mengandaikan sebagian peluang. Bila kalau saya geser ke sekolahmu, apakah saya juga akan dapat dekat denganmu? Atau bila ketika itu, saya miliki sedikit keberanian untuk menyebutkan perasaanku, apakah kau tetaplah juga akan dengan lelaki itu? Bila saja saya memberi surat panjang itu padamu dari dahulu, apakah pada akhirnya akan begini?

Saya tidak sempat tahu jawabannya. Apa yang dapat kulakukan sekarang ini hanya menyesali kebodohanku.